Si Pincang - Cerita Bersambung

Mei 13, 2019

https://cdn.eventfinda.co.nz/uploads/events/transformed/1021657-416080-14.jpg
source pict

Karena lama gak bikin post, berikut aku migrasiin cerita dari blogku jaman SMA yang sudah tidak aktif sebagai kenangan.

“Hah hah hah hah. . “ terdengar suara terengah-engah orang berlari
“Bruk . . .” dan terjatuh
“Jangan.. . .. .jangan . .! tolong jangan . .. !” pintanya dengan rintih ketakutan “Aku hany . .jleb jleb jleb!” suara tusukan bertubi-tubi terdengar . . .
“Argh .. . !!! teriakan panjang suara rintihan yang memekik memecah tengahnya malam terdengar dari ujung gang yang gelap
“KAKIKU!!!! KAKIKU .. . . !!!! Jleb ! ah . ..”

Setiap subuh aku bangun untuk bekerja menjadi loper koran. Seperti biasa aku mengayuh sepedahku melintasi jalan yang menjadi kediaman para pelangganku. Setelah pukul 05.30 aku pulang, tetapi ketika di tengah perjalanan tiba-tiba ban roda sepedahku meletus. Karena jarak masih jauh aku memutuskan untuk mengambil jalan pintas melewati sebuah gang kecil yang jarang dilintasi.
“Wah sekali-kali coba lewat gang ini ah! Aku jarang lewat sini” gumanku. Dan ketika hampir berada di ujung gang tersebut aku mencium bau menyengat layaknya bangkai di sekitar tps gang tersebut.
“Masya ALLAH, bau apa ini!?” aku menggerutu “hmm . .bangkai apa ini di buang di sini!? Darahnya tercecer dimana-mana lagi” gerutuku lagi.
Setelah sampai di rumah aku lekas bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ketika pulang dari sekolah aku biasa mengunjungi kakekku untuk membantu apa yang kakek perlukan walaupun sebenarnya kakek bisa mengerjakannya sendiri dengan badan yang masih segar bugar akan tetapi aku tetap melakukannya sebagai baktiku pada kakek karena aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa,biasanya pekerjaan ini selesai sampai menjelang malam.
Kakekku bertempat tinggal agak jauh dari pemukiman warga. Kakek selalu di asingkan oleh warga sekitar karena tuduhan yang tidak pernah kakek lakukan, Kali ini aku pulang agak malam karena banyak pekerjaan di rumah kakekku. Ketika perjalanan pulang aku bertemu seorang anak kecil yang cacat kakinya kesulitan untuk berdiri.
“Saya bantuin ya dek !” sambil mengambilkan tongkatnya yang terjatuh.
“Tidak usah ! Kamu itu sama saja seperti orang-orang yang sebelumnya ! aku tidak percaya kamu dan aku tidak butuh bantuanmu ! aku bisa melakukannya sendiri !” bentaknya sambil berdiri dan menyahut tongkatnya lalu pergi. Tanpa berpikir panjang akupun pulang.

Keesokan harinya seperti biasa aku pergi berangkat kerja loper koran subuh-subuh dan ketika aku membawa koran tersebut aku sempat membaca sebuah berita utama yang menghebohkan.
“Pembunuhan terjadi di gang tanpa nama, sebuah mayat tanpa diketahui identitasnya ditemukan dengan kaki di mutilasi” bacaku.
“Loh foto ini kan foto di gang yang aku lewatin kemarin: gumanku.
“Astaghfirullah . . . berarti kemarin adalah bau busuk sebuah mayat ! ih ngeri . .” gumanku lagi.
Seminggu kemudian identitas mayat tersebut terkuak, diketahui mayat tersebut adalah orang yang menginjak-injak harga diri kakekku atas kebenciannya kepada kakekku. Dan kakekku pun di panggil untuk di selidiki sebagai orang terakhir yang bertemu korban. Setelah mendengar cerita tersebut dari tetanggaku aku pun bergegas untuk menjenguk kakekku.
Setelah itu aku pulang sangat larut dan ketika di jalan aku melihat anak cacat yang kutemui tempo hari berlari terburu-buru dengan terpincang-pincang dengan raut muka pucat pasi.
Dua hari kemudian seperti biasa aku berangkat kerja, dan sebelumnya aku selalu membaca berita utama terlebih dahulu.
“Pembunuhan terjadi di tempat yang sama, ditemukan sesosok mayat yang belum diketahui identitasnya dengan kaki dimutilasi.” Dua hari kemudian berita tentang identitas mayat tersebut terkuak. Dia adalah orang yang menuduh dan melaporkan kakekku ke polisi atas tuduhan pembunuhannya terhadap mayat yang berada di gang tanpa nama tersebut. Dan akupun di panggil untuk di mintai keterangan sebagai orang terdekat kakekku. Setelah penjelasanku, kakek akhirnya di bebaskan. Semua warga sekitar semakin geram terhadap kakekku. Terutama Forest, dia selalu menghardik keluargaku sebagai keluarga pembunuh. Sore itu dia datang dan mengancam kalau dia sudah mengumpulkan masa untuk mengusir kakek. Kemudian dia pun pulang dengan senang setelah puas maluapkan amarahnya ke kakekku akan tetapi tiba—tiba sesosok bayangan dari pohon besar di pekarangan kakekku mengalihkan perhatiannya.
“Apa tuh?!” menoleh sambil penasaran.
“Ah paling perasaanku saja” guman forest akan tetapi sesosok bayangan itu memanggilnya
“Ssuuut . .!”
“Hahh, bayangan itu memangilku” sambil mendekati secara perlahan, tiba-tiba sebuah tampar menjerat lehernya setelah sampai di belakang pohon.
“Uuh . .. . “ suara rintihannya sampai tidak terdengar.

Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah akan tetapi tidak seperti biasanya semua orang melihatku sinis entah kenapa dan terkadang sesekali mencemohku. Akupun hanya bisa diam karena tidak tahu apa-apa. Setelah pulang dari sekolah aku mengunjungi kakek, aku tercengang melihat kondisi rumahnya. Garis polisi melingkari rumahnya,polisi dimana-mana. Akupun segera menjenguknya di kantor polisi untuk meminta penjelasan apa yang terjadi. Setelah mendapat penjelasannya aku pulang. Aku pulang melewati gang tanpa nama tersebut terlihat garis polisi masih mengelilingi tps tersebut. Ketika pulang segerombolan massa membawa obor sudah menungguku untuk memberitahuku bahwa rumah kakekku sudah di bakarnya atas perbuatannya
“Hei cucu pembunuh ! Rumah kakekmu sudah kami bakar ! kalau sampai terjadi pembunuhan lagi rumah ini selanjutnya!” membentakku
“Kakekku bukan pembunuh!” sahutku
“Plak” dia menampar
“Kau gila apa! Kakekmu itu dulu sudah tertangkap basah membawa pisau dengan noda darah di bajunya telah membunuh ayah dan ibumu! Eh masih aja kamu belain! Aku curiga kalau kalian berdua bersekongkol!” hardiknya
“Pergi kalian!” bentakku sambil menangis
“Brak!” mendorongku ke pintu dan menarik kerahku ke atas
“Jangan berani-braninya membentakku. . .” bisiknnya
“Aku sudah muak dengan kelakuanmu dan kakekmu!” teriaknya dan pergi meninggalkanku bersama masanya. Lalu aku masuk dan menangis semalaman. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa merenung semalaman dan akhirnya aku mendapatkan ide untuk mengungkap pembunuhan itu sendirian.
Seperti biasa subuh aku sudah mulai bekerja akan tetapi aku tidak berangkat ke sekolah melainkan ke taman kota untuk mempersiapkan rencanaku.
“Hmm duduk dimana ya? Ah di sana saja ah! dekat pohon yang rindang pasti disana sangat sejuk.” Sambil berjalan menuju tempat tersebut. Kemudian aku mulai menyusun rencana sampai-sampai tidak terasa kalau aku ketiduran.
“Lari anakku ! lari !” dengan nada ketakutan
“Tapi pah ?”
“Cepat sebelum dia datang!” Dengan nada gelisah
“Papah dan mamah akan menghadangnya agar kamu bisa lari. Jadi papah mamah mohon cepat lari nak!” dengan nada gelisah dan tiba-tiba terdengar suara langkah orang berjalan menuju mereka
“Argh !” sebuah pisau menusuk punggung ayahku di hadapanku
“Papah! Kurang ajar kamu !” teriak mamahku
“buk buk buk !” ibuku memukulinya dan
“Argh!” ibuku di tusuk oleh seorang yang berbaju hitam-hitam bertutup kepala yang telah membunuh orang tuaku di hadapanku. Melihat kedua orang tuaku tak berdaya aku segera lari ke sawah di belakang rumah yang sedang hujan di tengah malam yang gelap gulita. Aku terus berlari dan tiba-tiba aku terjatuh, kakiku terkilir tak bisa berjalan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi pembunuh berada di hadapanku dengan membawa pisau tajam yang siap menghunuskan pisaunya.
“Apa yang kau inginkan!? Apa salahku!? Apa salah orang tuaku!?”
“buk buk buk ! “ dia menendangiku tanpa menjawab hingga aku hampir tak sadarkan diri. Kulihat terasa remang-remang di sekitar karena kondisiku yang hampir pingsan. Kulihat dia sedang mulai menghunuskan pisaunya dan……
“Huaa. . !!!”
“Mimpi ya dek!?” seorang perempuan berada di hadapanku dengan menyodorkan sebotol air putih mineral.
“Hah hah” aku tidak menghiraukannya dan hanya merenunginya
“Mimpi ini lagi!” gumanku
“Dek minum dulu dek! Kok malah bengong ?” suruhnya
“Ah makasih mbak .. “
“Kamu mimpi apa sih sampai teriak gitu ? aku kaget lho tadi!”
“Owh tidak hanya mimpi buruk kok! Loh mbak ini ada apa ya? Kok tiba-tiba mbangunin aku?”
“Kamu nggak ngrasa apa? Liat ke atas terik panas matahari sudah membakarmu dari tadi!”
“Owh iya! Makasaih ya kalau begitu.” Sambil berpindah ke bangku kosong yang teduh.
“Kalau boleh tahu nama kamu siapa mbak?” tanyaku
“Eh . .” tiba-tiba dia sudah berjalan jauh di depanku bersama seorang laki-laki
“Wah siapa ya?” gumanku
“Aku belum sempat melihat wajahnya walaupun tadi sempat bertatap muka tapi tadikan silau dan aku pun juga belum mengenal namanya.” Gumanku lagi sambil melihat botol yang di tinggalkannya.
“Siapapun dia aku ingin berterima kasih dengannya! Botol ini akan ku simpan.” Gumanku dengan senyum.
“Eh kenapa aku merasa berdebar-debar ya? Apa ini . . . . Ah mungkin gara-gara mimpi tadi kali !”
“Loh kelihatannya itu bungkusan milik mbak tadi” sambil memungut bungkusan di dekat pohon tempatku tidur.
“Wah isinya kalung lagi ! Wah kebetulan ada notanya ! sip dah ! nanti bisa langsung saya kembalikan sekalian kenalan hehehehe. Ow jadi namanya Nichen Yunita Agustin rumahnya juga tetangga an sama kelurahanku jadi kebetulan banget nih ! hahahahahha” bacaku dengan penuh kegembiraan.

Waktu setelah Ashar aku segera menuju alamat yang aku dapat. Akan tetapi di sebuah perempatan aku melihat anak pincang yang akhir-akhir ini sering aku jumpai. Dia sedang mengintip rumah seseorang. Dia sedang berdiri menyandar di samping tiang yang berada di belokan perempatan tepat. Dan tiba-tiba ada sebuah mobil melaju kencang akan menabrak anak pincang itu. Melihat hal itu aku segera berlari untuk menyelamatkannya hingga akhirnya aku terjatuh dan tanganku terkilir.
“Makasih ya !” bentaknya
“Walaupun begitu aku masih tidak akan mempercayaimu! Mengerti !” bentaknya lagi, sebelum ucapannya selesai tiba-tiba perhatianya teralihkan pada seorang laki-laki yang tak ku kena, lalu diikutinya. Aku ditinggal pergi olehnya tanpa menghiraukan kondisiku.

Karena rumah Nichen sebelahan dengan rumah laki-laki yang di intai anak tadi. Aku segera menuju rumahnya untuk mengembalikan kalung dan botolnya sekaligus minta pertolongan.
“Assalammu’alaikum !” teriakku
“Walaikumsalam . ..” jawab seorang wanita yang tingginya sepundakku.
“Nichennya ada mbak?” tanyaku sambil menahan rasa sakit
“Loh kamu kan cowok yang ketiduran tadi !” tanyanya
“Hah ! jadi kamu Nichen!” aku tertegun melihatnya, rasa sakitku hilang sesaat , hatiku berdebar-debar sampai-sampai aku tak sadarkan diri.
“Heh cowok asing ! bangun ! udah 17 menit kamu pingsan!” sambil membauiku bau minyak gosok ke hidung.
“Heh bangun ! di lihatin tetanggaku tidak baik! Aku sedang sendirian di rumah soalnya!” sambil menepuk tanganku yang terkilir.
“Aaahh!!!” teriakku
“Ih bangun-bangun selalu ngagetin aku kamu itu ! lagian kamu pingsan segala kenapa sih?”
“Ma’af aku tadi habis di serempet mobil di perempatan situ, ini tanganku terkilir ! mungkin aku pingsan juga gara-gara dari tadi siang belum makan trus shock akibat accident tadi.” Jawabku dengan nada lemas. Setelah makan di rumahnya kami berbincang-bincang tentang banyak hal selama sesore rasanya seperti sudah kenal dengannya lama banget. Waktu menunjukan pukul 05.00 sore tepat dan orangtuanya pun pulang.
“Assalammu’alaikum !” salam orangtuanya
“Loh ini siapa dek? Tidak biasanya kamu di datangi laki-laki? Ini pac . .”
“Bukan kok pa ! ini temanku tadi habis keserempet mobil di perempatan situ ! dia juga habis pingsan.” Langsung sahut nichen.
“Owh . sudah di obatikan ! nanti pulang jangan lupa di pijatkan ya dek ! oke!” “Iya pak, makasih udah di bantu tadi. Sekarang saya pamit pulang dulu pak sudah sore.” Sambil menyalami kedua orangtua Nichen. Orangtuanya segera masuk dan aku pun pulang ku tengok kebelakang dia tersenyum kepadaku.
“Eh nama kamu siapa?” teriaknya dari kejauhan sambil tersenyum.
“ . . . .”
“Hah!? Bilang apa tadi !?” gerutunya
“Ah ya sudahlah nggak kedengeran juga nggak apa-apa lagiankan sudah jauh.”
“Loh iya bungkusannya Nichen! Wah lupa belum tak kembalikan! Loh ketemu anak pincang ini lagi ! lama-lama aku jadi penasaran kenapa aku jadi sering bertemu dengan anak ini ya?” tanpa sadar aku bergerak perlahan-lahan mengikutinya dari kejauhan.
“Loh ngapain juga aku ngikutin anak itu hari sudah mulai malam. Tapikan aku sudah setengah jalan mana mungkin aku kembali..” Tiba-tiba seorang anak yang mirip dengan anak pincang itu datang akan tetapi tidak pincang. Dia memapahnya. Aku terus mengikutinya dari belakang tiba-tiba seseorang menodongkan sebuah pisau dari belakangku.
“Ada apa kamu membuntuti mereka?” tanyanya
“Ah tidak . . aku tidak sedang membuntuti mereka!” dengan nada ketakutan
“Ah kamu bohong mari ikut saya dan jangan berani menengok kebelakang!” bisiknya
“Ba baik . . “ jawabku
Aku di bawa ke suatu tempat yang aku rasa sudah ku kenal. Kemudian tangan dan kakiku di ikat di sebuah bangku kecil mataku di tutup.
“Aku rasa kamu sudah tahu ya rencana-rencana kami?” Tanya salah seorang dari mereka
“Rencana? Sumpah aku tidak tahu apa-apa tentang rencana kalian”
“Buk! Ah . .!!” tanganku yang terkilir di pukulnya.
“Jangan bohong kamu! Lalu di dalam tasmu ini apa? Daftar rencana pengungkapan pembunuhan misterius ini apa? Lagian orang yang membuntuti kita pasti sudah mencium gerak-gerik kita!” bentak salah seorang yang lain.
“Kamu tahu kamu itu akan segera saya bunuh beserta target kami yang sudah kami incar sejak lama.” Sahutnya lagi.

Sementara di daerah kediaman Nichen.
“Aduh aku laper pengen makan nasgor! Tapi kok udah tengah malem gini!? Ah tidak apa lah kan warungnya di perempatan sini. Bismillah semoga PP selamat sentosa amin . . .!” guman Nichen.
Setelah kenyang makan nasgor Nichen pun pulang. Ketika sudah berada di dalam ia mendengar suara berisik dari rumah sebelah tepatnya rumah kediaman omnya.
“umm . . ummm . .umm m m . .”suara teriakan mulut di bungkam.
“Loh rumah om ada apa tuh! Kok ada orang di seret segala jangan-jangan om berbuat keji lagi nih! Wah tidak boleh di biarkan ini.” Tanpa berpikir panjang Nichenpun mengikutinya.
“Hmm . . Om ini maunya apa sih! Masak mau ngebunuh orang lagi ! Setelah sampai di tempat persembunyian Nichen kaget karena dia menemui om dan teman yang baru di kenalnya di sandera.
“Astaghfirullah . . . ada apa ini mereka kok bawa pisau daging segala!? Aku harus segera kembali ngasih tau ortuku!” dan tiba-tiba tanpa sengaja Nichen bersendawa keras karena habis kekenyangan makan nasi goreng.
“Oogg . . .!!!”
“Shit . . sendawaku terlalu keras” gumannya ketakutan
“Eh siapa? Kelihatannya suaranya dari situ” terdengar suara sayup-sayup mereka dari tempat Nichen.
“Bagaimanapun ini masalah besar aku harus segera lari !” sambil bersiap-siap untuk lari sekencang-kencangnya.
“1 . . 2. . .3 . . .Hhuwaaaaaaaaaaaaaa . .. . . . . .!!!!!!!!!!!!” Nichen berlari sambil berteriak sekencang-kencangnya.
“Lepaskan Moli! Lepaskan Moli!” entah apa yang di teriakan mereka Nichen tidak peduli. Dia terus saja lari. Akan tetapi tiba-tiba ada yang mendorongnya dari belakang
“Arrrrrrg . . . .. .guk guk !!” seorang anjing besar menjatuhkan Nichen sambil menggigit lengannya.
“Tolong . . . .Auw dasar anjing sialan ! lepas! lepaskan



to be continued...

You Might Also Like

0 comments